.

.
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء و المرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين أهلا وسهلا بكم إذا كانت هذه زيارتك الأولى للمنتدى، فيرجى التفضل بزيارة صفحة التعليمات كما يشرفنا أن تقوم بالتسجيل ، إذا رغبت بالمشاركة في المنتدى، أما إذا رغبت بقراءة المواضيع والإطلاع فتفضل بزيارة القسم الذي ترغب أدناه. عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه - قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: "إن إبليس قال لربه: بعزتك وجلالك لا أبرح أغوي بني آدم مادامت الأرواح فيهم - فقال الله: فبعزتي وجلالي لا أبرح أغفر لهم ما استغفروني" اللّهم طهّر لساني من الكذب ، وقلبي من النفاق ، وعملي من الرياء ، وبصري من الخيانة ,, فإنّك تعلم خائنة الأعين ,, وما تخفي الصدور اللهم استَخدِمني ولاَ تستَبدِلني، وانفَع بيِ، واجعَل عَملي خَالصاً لِوجهك الكَريم ... يا الله اللهــم اجعل عملي على تمبـلر صالحاً,, واجعله لوجهك خالصاً,, ولا تجعل لأحد فيه شيئاً ,, وتقبل مني واجعله نورا لي في قبري,, وحسن خاتمة لي عند مماتي ,, ونجاةً من النار ومغفرةً من كل ذنب يارب يارب يارب

.

.

.

.

Thursday, April 9, 2015

RINGKASAN KITAB ‘AISYAH UMMUL MUKMININ



Buku ini merupakan ensiklopedi ilmiah tentang berbagai sisi kehidupan dan keutamaan Ibunda Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, menukil sisi kehidupan beliau dari sisi yang berbeda, mengenal beliau lebih dekat, sifatnya, dan hubungannya yang terjalin antara beliau dengan Rasulullah -shallallahu ’alaihi wa sallam- dan ahlul bait. Termasuk berkenaan dengan fitnah dan syubhat paling keji yang pernah dilontarkan kepada beliau. Buku ini juga membahas hukum bagi siapa saja yang mencela beliau dan berisi kumpulan bait-bait syair yang berisikan pujian untuknya.

Ringkasan buku ini mencantumkan beberapa topik penting yang diambil dari buku aslinya, mengacu kepada urgensi
maksud dari penulisan buku ini. Topik utama dalam buku aslinya dijelaskan secara garis besar dengan disertakan dalildalilnya, derajat periwayatnya dan takhrij hadistnya. Sangat menarik bagi siapa saja yang ingin memperluas pengetahuannya tentang ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha 

Mungkin akan timbul pertanyaan, “Begitukah pentingkah kedudukan Ummul mukminin ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha- sehingga harus ditulis kitab khusus tentang kehidupan, keutamaan-keutamaan, serta pembelaan terhadap beliau?”

Jawabannya adalah: Iya, karena jika beliau tercemar nama baiknya maka tercemarlah agama Islam ini, dan celaan yang menjatuhkan beliau berarti juga celaan terhadap banyak hukum dan riwayat hadist yang diriwayatkan melalui jalur beliau. Yang berarti juga mencela kehormatan Rasulullah – shallallahu’alaihi wa sallam- dan mendustakan Allah Azza wa Jalla. Maka tatkala keadaannya seperti ini –banyak tuduhan dialamatkan kepada Ummul Mukminin- dan bermunculannya orang-orang yang meniti di atas jalannya kaum munafikin, mereka semua menuduh istri Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- dengan tuduhan palsu dan dusta. Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita membantah semua tuduhan tersebut dengan menampilkan keutamaan-keutamaan beliau, serta membelanya dari segala syubhat yang dilontarkan kepada beliau. Untuk itulah buku ini ditulis.

Buku ini terdiri dari tujuh bab.
Bab Pertama:
Kehidupan Ummul Mukminin Aisyah -Radhiyallahu ‘anha 

Terbagi menjadi dua bagian:
Yang Pertama: mengenal beliau dari silsilah keluarga beliau.

Beliau adalah Aisyah binti Abu Bakar (Abdullah) bin Abi Quhafah (Utsman) bin Aamir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ay bin Fihr bin Malik bin Kinanah. Beliau termasuk orang Quraisy dari bani Taimiyyah, orang Mekkah yang kemudian menjadi orang Madinah.

Kunyah (baca: kun-yah) beliau adalah Ummu Abdillah, kunyah yang diberikan Rasulullah untuk membuat Aisyah bahagia.

Bahkan beliau radhiyallahu ‘anha digelari dengan banyak laqob (sebutan) karena begitu banyaknya kemuliaan beliau. Diantara laqob tersebut adalah Ummul Mukminin, Habibah/kekasih Rasulullah, Mubarro-ah (wanita yang dibersihkan dari tuduhan), Toyyibah (wanita yang baik), Shiddiiqoh (wanita yang jujur), Humairah (wanita yang pipinya kemerah-merahan) dan Muwafaqah (wanita yang beruntung). 

Rasulullah sering memanggil beliau dengan panggilan wahai ‘Aisy, wahai putrinya orang yang jujur, dan wahai putrinya Abu Bakar.

Ayahnya adalah seorang khalifah pertama yang menjadi pemimpin umat Islam sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Abu Bakar. Dan ibunya, Ummu Rumman, termasuk wanita pertama yang masuk Islam.

Aisyah mempunyai saudara kandung seayah dan seibu serta saudara kandung seayah lain ibu. Saudara beliau yang seayah dan seibu adalah Abdurrahman. Sedangkan Abdullah, Asma’, Muhammad dan Ummu Kultsum adalah saudara lain ibu.

Bibi-bibi beliau adalah para shahabiyyah Rasulullah, yaitu: Ummu Aamir, Quroibah, dan Ummu Farwah.

Beliau memiliki beberapa hamba sahaya yang setia kepada beliau diantaranya adalah: Bariroh, Saibah, Marjanah, Abu Yunus, Dzakwan.

Ummul Mukminin Aisyah dilahirkan di Mekkah, sekitar empat atau lima tahun setelah kenabian Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Beliau dilahirkan di lingkungan Islam dan tidak mengalami masa jahiliyyah. Kedua orang tuanya termasuk golongan pertama yang masuk Islam dan memberikan dukungan penuh terhadap perjuangan dan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.

Beliau dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam sebelum hijrah (ke Madinah) ketika beliau baru berumur 6 tahun, dan mulai diperlakukan sebagai seorang istri pada bulan Syawal setelah hijrah ketika beliau menginjak usia 9 tahun. Sebelum menikahinya Rasulullah bermimpi didatangi malaikat selama tiga malam. Malaikat itu mengatakan kepada beliau, “Dia itu istrimu”.

Selama menikah beliau menemani hari-hari Rasulullah selama 8 tahun 5 bulan, karena Rasulullah meninggal ketika beliau baru menginjak usia 18 tahun.

Aisyah tinggal bersama Rasulullah di sebuah kamar yang sempit, yang jauh dari kata sejahtera dan nyaman. Baik dari segi perlengkapan rumah maupun makanan yang digunakan sebagai penyambung hidup. Bahkan beliau pernah tinggal bersama Rasulullah selama 2 bulan tanpa memiliki sesuatupun yang dapat dijadikan makanan. Mereka hanya bergantung pada kurma dan air untuk mengisi perutnya. Namun semua itu tidak menghalangi beliau untuk selalu tampil menarik di hadapan suaminya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah senantiasa setia membantu Rasulullah, menjaga hak-hak beliau, senantiasa memberikan kenyamanan kepada Rasulullah, menjaga rahasia beliau, selalu menjaga penampilannya, dan memiliki rasa cemburu kepada beliau.

Di mata Rasulullah, Aisyah mempunyai kedudukan yang sangat istimewa. Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah, beliau selalu menampakkan kecintaannya, menjaga Aisyah sewaktu usianya sangat muda, selalu membuat Aisyah bahagia dan suka cita, selalu mendengarkan ucapan Aisyah, selalu menaunginya dengan penuh cinta kasih hingga beliau meninggal dunia. Para sahabat Rasulullah pun menyadari hal itu, mereka menunggu untuk memberi hadiah kepada Rasulullah ketika beliau berada di rumah Aisyah, begitu pula para istri Rasulullah yang lain pun mengetahui cinta Rasulullah yang besar kepada Aisyah.

Cinta terus menghiasi rumah tangga mereka hingga menjelang wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Karena kecintaan beliau terhadap Aisyah, maka tatkala beliau sakit, para istri beliau mengizinkan Rasulullah tinggal bersama Aisyah. Hal tersebut juga dikarenakan kecerdasan Aisyah yang begitu istimewa, kuatnya hafalannya, cepat memahami segala hal, sehingga ia radhiyallahu ‘anha- akan mampu memperhatikan dan mengetahui setiap perkataan dan perilaku Rasulullah di sisa-sisa waktunya. Hingga akhirnya Rasulullah wafat di rumah Aisyah, pada hari gilirannya, dalam pelukannya dan telah bercampur antara air ludah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam dengan air ludahnya.

Dan sepeninggal Rasulullah, kaum muslimin bersepakat bahwa Abu Bakar lah yang menjadi pemimpin. Sementara Aisyah tetap tinggal di kamarnya, dan perannya pun belum terlihat ketika itu disebabkan begitu dahsyatnya fitnah yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah. Kaum muslimin kala itu sibuk memerangi kemurtadan yang mulai mewabah, dan bersamaan dengan itu Abu Bakar pun menjadikan Aisyah sebagai rujukan dalam beberapa masalah yang tidak ia ketahui, dan Aisyah juga menjawab banyak pertanyaan dari kalangan shahabat.

Abu Bakar meninggal dunia setelah beliau berwasiat agar dikuburkan disamping makam Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam.

Maka di zaman Umar Bin Khathab, peran ilmiyah Aisyah kala itu mulai nampak semakin jelas. Ketika Umar bin Khathab merasa kesulitan dalam suatu perkara khususnya dalam masalah kemanusiaan- beliau menanyakan persoalan tersebut kepada Aisyah. Umar bin Khathab sangat peduli kepada istri-istri Rasulullah, beliau selalu memperhatikan keadaan mereka, terlebih lagi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Bahkan beliau selalu melebihkan Aisyah dari istri-istri Rasulullah yang lain dalam pembagian harta dari baitul mal. Karena beliau beralasan bahwa Aisyah adalah kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Aisyah begitu segan dan menghormati Umar bin Khathab, beliau meriwayatkan banyak hadits dari Rasulullah tentang keutamaannya. Oleh sebab itu ketika Umar bin Khathab ditikam dan meminta agar ia diizinkan untuk di kubur disamping Abu Bakar, Aisyah langsung mengizinkan dan memuliakannya melebihi diri beliau sendiri.

Pada zaman Utsman bin Afan kejayaan Islam semakin meluas, banyak menguasai negara-negara baru, sehingga ilmu dan kepandaian Aisyah saat itu sangat dibutuhkan.

Utsman bin Affan pun tidak jauh beda dengan Umar bin Khathab dalam memperhatikan kebutuhan para istri-istri Rasulullah. Dia mengetahui ukuran yang pas untuk para istri Rasulullah, termasuk Aisyah. Aisyah adalah orang yang mengetahui banyak hadits dari Rasulullah yang menjelaskan tentang keutamaan Utsman bin Affan. Antara Aisyah dan Utsman bin Affan terjalin hubungan yang baik dan saling memahami hingga terbunuhnya Utsman bin Affan. Aisyah adalah orang yang pertama kali meminta agar pembunuhnya dan pemberontaknya dijatuhi hukum qishash (balas bunuh).

Pada era kekhilafahan Ali bin Abi Thalib yang mewarisi kepimpinan setelah kematian Utsman bin Afan, hubungan antara Aisyah dengan Ali bin Abi Thalib pun berjalan sangat baik. Berjalan diatas kasih sayang dan saling menghargai, keduanya mengetahui tugas dan kedudukan masing-masing, dan Aisyah pun berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling pantas memegang kekhilafahan setelah Utsman bin Afan, akan tetapi mereka berbeda pandangan dalam masalah terbunuhnya Utsman bin Afan.

Adapun di masa Muawiyyah radhiyallahu ‘anhu, sebenarnya tidaklah terjadi sesuatu yang mengganggu kejernihan ukhuwah antara keduanya sebelum Muawiyyah menjadi khalifah. Dan memang sebenarnya Muawiyah begitu  menghormati ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anha, dan berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan ummul mukminin, khususnya setelah Muawiyyah menjadi khalifah. Hanya ada beberapa kejadian yang mengganggu kejernihan hubungan keduanya. Meskipun begitu Muawiyyah tetap bersungguhsungguh untuk memohon keridhoan Aisyah radhiyallahu anha, mengirim surat untuk meminta nasehat, dan Aisyah pun akhirnya menasehatinya.

Era Muawiyyah berlangsung selama 20 tahun, dan Aisyah hidup dalam pemerintahannya selama 18 tahun, artinya beliau meninggal 2 tahun lebih awal sebelum pemerintahan Muawiyyah berakhir, tahun 58 H. Ada juga yang tidak sependapat seperti ini. Beliau disemayamkan di pemakaman Baqi’ dan pada saat itu penduduk Madinah dilanda duka yang mendalam karena meninggalnya ummul mukminin.

Bab Kedua:
Karakteristik Ummul Mukminin Aisyah, Ketinggian Ilmunya Serta Pengaruhnya Terhadap Dakwah Islam

Pada bab kedua ini terbagi menjadi 3 bagian: 

Bagian pertama: Sifat-sifatnya
Berbicara tentang sifat maka disana ada 2 macam sifat, yaitu sifat secara fisik dan sifat secara psikis. Secara fisik, Aisyah adalah wanita yang sangat cantik, berkulit putih, kemerah-merahan, berpostur tinggi. Sedangkan secara psikis maka tidak ada lagi yang lebih menakjubkan dari akhlak beliau. Beliau dibesarkan dalam lingkungan kenabian, didikan dan arahan Rasulullah memberikan dampak yang begitu besar terhadap perkembangan akhlaknya, dan mengatur perilakunya, dengan menjadikan Rasulullah sebagai tauladan, dan selalu bersama dalam setiap kondisi dan keadaan.

Beliau adalah seorang yang rajin dalam beribadah, selalu menegakkan tahajjud, terkenal banyak sholat malam, bertanggung jawab, rajin dalam melaksakan ibadah-ibadah yang sunnah, dan beliau sama sekali tidak ingin ketinggalan untuk melaksanakan ibadah haji.

Dan termasuk keistimewaan sifat beliau adalah berakhlak mulia, murah hati, rajin bershadaqah, zuhud terhadap duniawi, menjaga diri (dari dosa), khusyu’ dalam beribadah, selalu melaksanakan ibadah haji, lembut hatinya, pejuang, pemberani, suka mendamaikan sesama manusia, pemalu, mengajak kepada kebaikan, melarang kemungkaran,       berlaku        adil,   pandai          mengatasi permasalahannya,membenci pujian, dan sederhana. Itulah beberapa sifat yang menggambarkan akhlak beliau.


Yang Kedua: Kedudukan Ilmunya
Sungguh para ulama secara turun temurun telah memuji ketinggian ilmu dan kefahaman beliau. Karena itulah, para shahabat acap kali menanyakan berbagai permasalahan ilmu yang sulit kepada beliau. Dan tidak diragukan lagi bahwa diantara sebab tingginya kedudukan ilmu yang diraih ummul mukminin itu adalah; tajamnya kecerdasan beliau, kekuatan ingatannya, pernikahannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam usia dini, banyaknya wahyu yang turun (ketika Rasulullah) berada di rumahnya, serta lisan beliau yang gemar bertanya meminta penjelasan.

Sungguh beliau radhiyallahu ‘anha selalu mengikuti metodologi keilmuan (yang jelas), symbol ilmu yang jelas, itu terlihat dari: bagusnya pemahaman beliau dalam berbagai permasalahan yang ada dalam Al-Qur’an dan sunnah, menjaga diri dari berfatwa tanpa ilmu (asal bicara), kepiawaiannya menggabungkan dalildalil dengan kefahaman penuh terhadap tujuan syariah Islam dan ilmu-ilmu arab, serta mahirnya dalam memahamai teks–teks Syariat. Beliau juga mengenal betul tatakrama dalam berbeda pendapat, serta memiliki uslub keilmuan yang kental dalam mengajar.

Beliau memiliki keistimewaan dalam berbagai bidang ilmu syariah maupun non syariah. Di antaranya dalam bidang ilmu aqidah, Al-Qur’an dan kandungannya. Metode mengajarnya pun sangat efektif, terkadang beliau mentafsirkan AlQur’an dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an dengan sunnah, terkadang beliau juga mempertimbangkan asbabun nuzul-nya, serta mentafsirkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab. Semua itu dikarenakan mahirnya beliau dalam ilmu bahasa dan luasnya penguasaan ilmu sastra Arab, baik syair maupun sajak. Begitu pula dalam bidang sunnah nabawiyyah ummul mukminin Aisyah sangat menguasainya. Karena kedekatan yang terjalin antara beliau dengan Rasulullah, beliau mendengar langsung dari Rasulullah, melihat dengan mata sendiri segala tindak tanduk suaminya tersebut, beliau juga sering bertanya kepada Rasulullah tentang banyak perkara yang tidak ia ketahui ilmunya. Tidak kurang dari 2210 hadist telah beliau riwayatkan dari Rasulullah sehingga menempatkan dirinya termasuk jajaran para shahabat yang banyak meriwayatkan hadits.

Pemahamannya yang luas dalam berbagai bidang ilmu menempatkan dirinya sebagai mufti yang selalu diambil fatwanya, beliau juga termasuk orang yang terpandai diantara kalangan sahabat. Seperti dalam bidang sejarah, kehidupan bangsa arab, sirah Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, bahasa, sastra, fasih dalam berbicara, begitu juga dalam ilmu pengobatan dan penyembuhan.

Luasnya ilmu dan banyaknya pengetahuan yang dimilikinya telah banyak mempengaruhi ulama-ulama dari kalangan shahabat senior dalam berbagai banyak permasalahan.

Yang Ketiga: Pengaruhnya Terhadap Dakwah Islam
Berbicara tentang pengaruh Aisyah dalam berdakwah kepada jalan Allah baik ketika pada masa Rasulullah maupun kekhilafahan serta masa-masa dinasti umawiyyah, maka beliau adalah seorang yang berdakwah diatas metode yang bijaksana serta pembahasan-pembahasan yang sarat dengan kebaikan, karena beliau adalah panutan bagi kaum muslimin.

Bab Ketiga:
Keutamaan Aisyah Dibandingkan dengan para wanita lain di rumah kenabian, dan keutamannya dibanding ayahnya Sendiri

Yang pertama:
Adapun keutamaannya –dan ini bagian pertama pada bab ini), diantaranya terdapat keutamaan yang sama seperti keutamaan istri-istri Rasulullah yang lainnya. Dan ada pula yang khusus bagi beliau radhiyallahu anha.

Diantara keutamaan beliau radhiyallahu ‘anha yang sebanding dengan istri-istri Rasulullah yang lain adalah mereka semua termasuk wanita yang paling utama di muka bumi secara mutlak, sebagai istri-istri dari seorang hamba yang paling mulia dimuka bumi, sebagai ibu kaum mukminin sebagaimana yang telah ditegaskan di dalam Al-Qur ’an

dan istri-istrinya adalah ibu ibu mereka

Mereka juga istri-istri Rasulullah di dunia dan akhirat, mereka lebih memilih Allah dan Rasulnya serta kehidupan Akhirat daripada kehidupan dunia dan perhiasannya, Allah juga menjaga kesucian mereka dari segala dosa berupa syirik, akhlak yang tercela, etika yang buruk, serta Allah melipat gandakan setiap ketaatan dan amal sholeh mereka. Masih banyak lagi keutamaan-keutamaan mereka radhiyallahu anhunna yang lain.

Diantara keutamaan- keutamaan yang khusus bagi Aisyah adalah:
1.   Sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam 
“Keutamaan Aisyah atas kaum wanita seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan”
2.   Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah, ketika beliau ditanya
“Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah”
3.   Rasulullah tidak menikahi seorang perawan pun selain Aisyah
4.   Dalam mimpi Rasulullah, Allah Azza wa Jalla menggambarkan Aisyah dengan sebuah kain sutera, sehingga pernikahanya dengan Rasulullah adalah wahyu dari Allah.
5.   Rasulullah memilih untuk tinggal di rumah Aisyah ketika beliau sakit, sehingga beliau meninggal di rumah Aisyah, pada hari gilirannya, dalam pelukannya, dan bercampur antara ludahnya dengan ludah Rasulullah saat menjelang akhir hayatnya, dan dikuburkan di rumah beliau radhiyallahu ‘anha juga.
6.   Tidak pernah turun wahyu sedang Rasulullah berada diselimut istrinya selain Aisyah.
7.   Jibril pun pernah mengucapkan salam untuknya
8.   Beliau juga mendapat jatah dua hari dan dua malam, melebihi istri-istri Rasulullah yang lainya
9.   Beliau adalah wanita yang paling pandai dan banyak ilmunya, dan tidak satu pun wanita yang lebih banyak meriwayatkan hadits Rasulullah dari pada ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha
10.        Rasulullah mendoakan ampunan bagi beliau radhiyallahu ‘anha atas dosadosanya yang telah lampau maupun yang akan datang.

Masih banyak lagi keutamaan-keutamaan beliau radhiyallahu ‘an ha yang lain.

Seluruh umat Islam dari zaman shahabat hingga zaman ini, bahkan hingga datangnya hari kiamat pun selalu memuji beliau radhiyallahu ‘anha dengan kalimat-kalimat pujian. Kecuali Syiah Rafidhah yang telah keluar dari Islam, sebagaimana kesepakatan para ulama.


Yang kedua: Keutamaan Aisyah dibandingkan dengan wanita ahlu bait dan ayahnya.
Terdapat perselisihan diantara ulama, manakah yang lebih utama antara Aisyah dengan ummul mukminin Khodijah radhiyallahu anhuma. Pendapat terkuat adalah perlu adanya perincian dalam hal tersebut.

Ummul mukminin Khodijah lebih utama dalam hal perlindungannya untuk Rasulullah, pembenarannya disaat semua orang mendustakan Rasulullah, pertolongannya untuk Rasulullah dan dari beliaulah keturunan Rasulullah lahir.

Sedangkan Aisyah lebih utama dalam bidang ilmunya dan manfaatnya untuk umat muslim.

Maka yang benar adalah dalam permasalahan ini perlu dijelaskan secara terperinci. Jika ditinjau dari segi kemuliaan nasab, maka jelaslah nasab Fatimah binti Rasulullah lebih utama. Namun jika ditinjau dari keutamaan ilmu pengetahuan, maka tidak diragukan bahwa Aisyah lebih utama dan lebih bermanfaat bagi umat, dan lebih utama dari sisi ini.

Jika dibandingkan keutamaan Aisyah radhiyallahu anha dengan Abu Bakar, maka para ulama bersepakat bahwa Abu bakar lebih utama dari pada Aisyah. Semoga Allah Ta’ala meridhoi keduanya.

Bab Keempat:
Hubungan Baik Antara Aisyah Radhiyallahu Anha Dengan Ahlul Bait Rasulullah

Pada zaman shahabat, tampak jelas makna persaudaraan dan kasih sayang yang paling tinggi. Tidak pernah pudar hubungan baik antara mereka dengan ahlul bait Rasulullah. Begitu pula hubungan Aisyah yang sangat baik dengan para ahlul bait.

Yang pertama: hubungan baik yang terjalin antara beliau radhiyallahu anha dengan ahlul bait yang terdapat dalam kitab-kitab ahlu sunnah. Diantaranya adalah hubungan baik antara beliau dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Banyak dalil yang menjelaskan tentang hubungan baik antara keduanya tersebut bahkan ketika mereka berbeda pendapat tentang kasus terbunuhnya Utsman bin Afan. Hingga akhirnya, pendukung Ali bin Abi Thalib dan pendukung Aisyah terlibat dalam peperangan yang bernama “Waqo’atul Jamal”. Setelah itu Ali bin Abi Thalib mengirimkan kepada Aisyah hewan tunggangan, perbekalan dan juga perhiasan. Sehingga Aisyah berkata kepada manusia, “Wahai anakku, janganlah kalian mencela salah satu diantara kami, demi Allah sesungguhnya yang terjadi antara kami hanyalah sesuatu yang biasa terjadi antara perempuan dengan mertuanya, dan sesungguhnya dia termasuk orang baik yang dalam teguranku” dan Ali bin Abi Thalib juga menjawab, “Dia benar, karena sesungguhnya demikianlah yang terjadi antara kami, dan dia adalah istri Rasulullah baik di dunia maupun akhirat” kemudian mereka berjalan bersama dan Ali pun mengantarkan beliau ketika pulang. Begitulah hubungan baik yang terjalin antara Ali dan Aisyah, semoga Allah meridhoi keduanya.

Begitu pula ketika Utsman bin Afan terbunuh, maka beliau meminta para sahabat agar menjadikan Ali sebagai penerusnya dan setia kepadanya. Bahkan kadangkadang Aisyah menyarankan kepada para sahabat untuk meminta fatwa kepada
Ali juga.

Dalam bab ini juga dibahas hubungan baik antara Aisyah dengan Fatimah Azzahra. Yaitu hubungan keduanya yang terjalin penuh kasih sayang, cinta, dan keharmonisan, dan tidak ada yang menyangkalnya. Bahkan banyak sekali dalildalil yang menunjukkan jalinan kasih sayang antara keduanya. Diantaranya adalah apa yang diucapkan oleh Aisyah tentang Fatimah, “Saya tidak pernah
melihat seorang pun yang lebih baik dari Fatimah selain ayahnya sendiri”. Aisyah juga meriwayatkan hadits tentang sebuah rahasia antara Fatimah dan Rasulullah, kabar gembira yang Rasulullah khususkan bagi Fatimah, yaitu sebuah kabar gembira bahwa Fatimah adalah pemimpin wanita di surga. Seandainya ada kebencian antara mereka berdua, niscaya hal ini tetap akan menjadi sebuah rahasia. Sementara yang terjadi adalah Fatimah mengungkapkan rahasia yang telah Rasulullah khususkan untuknya dan tidak boleh diungkapkan selama Rasulullah masih hidup, kepada Aisyah radhiyallahu’anha sepeninggal Rasulullah. Ini menunjukkan jalinan kasih sayang yang terjadi antara keduanya. Dan jika Fatimah pergi ke rumah Rasulullah sedangkan beliau tidak ada, maka Fatimah akan menyampaikan maksudnya kepada Aisyah agar nanti beliau sampaikan kepada Rasulullah. Hal ini menunjukkan bahwa Fatimah percaya terhadap Aisyah. Bahkan Rasulullah memerintahkan kepada Fatimah supaya menyayangi Aisyah, dan tidak mungkin bagi seorang Fatimah mengingkari perintah ayahnya. Dan masih banyak lagi bukti yang menunjukkan hubungan baik yang terjalin antara keduannya.

Aisyah juga selalu menjalin hubungan baik antara dirinya dengan ahlul bait yang lainnya. Hadits tentang “al-kisa’ (kain)” yang diriwayatkan oleh Aisyah adalah sebuah indikasi tentang hubungan baik yang terjalin antara mereka. Hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah memasukkan Hasan, Husain, Fatimah, dan Ali dalam kain bajunya dan bersabda,

“Sesungguhnya Allah menjauhkan kalian dari kekejian, Ahlu bait dan membersihkan kalian dengan sebersih bersihnya”.

Begitu juga Riwayat beliau tentang keutamaan Hasan. Bahkan Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib pun belajar kepada Aisyah radhiyallahu anha. Dan tidak ada bukti nyata yang menunjukkan bahwa Aisyah benci atau marah kepada Ahlu bait Rasulullah.

Yang kedua: pembahasan tentang hubungan Aisyah dengan Ahlu bait menurut versi orang syiah. Disebutkan disebagian kitab-kitab mereka sebuah persaksian bahwa Ali menjaga Aisyah, memuliakannya, menghormati kedudukannya, dan sebuah persaksian dari mereka, bahwa Aisyah meriwayatkan banyak hadits tentang keutamaan Ali, Fatimah, dan Ahlu bait. Dan Aisyah juga mengizinkan Hasan untuk dikuburkan dirumahnya, mereka juga meyakini bahwa Aisyah adalah penghuni surga, pemimpin ahlu bait menamai anak-anak perempuan mereka dengan nama Aisyah, dan apa yang mereka sebutkan itu menunjukkan hubungan baik yang terjalin antara keduannya, bahkan ketika Fatimah memasak beliau tidak lupa memberikan sebagian masakannya untuk Aisyah, dan seterusnya yang mereka sebutkan dalam sebagian kitabnya, hanya saja yang membuat mereka mencabut semua klaim tersebut, karena adanya permusuhan antara Aisyah dengan salah satu ahlu bait Rasulullah.

Bab Kelima:
Kedustaan dan Syubhat yang Ditujukan Kepada Aisyah dan Bantahannya

Pasal Pertama yang berkaitan dengan sebuah rekayasa penuh kedustaan yang ditujukan kepada Aisyah. Yang mana kita ketahui bahwasanya Syiah Rofidhah lah menjadi dalang di balik kedustaan tersebut. Bahkan agama mereka dibangun diatas kebohongan.

Diantara rekayasa mereka adalah sebuah tuduhan keji bahwa Aisyah berusaha meracuni Rasulullah. Mereka mengarang sebuah cerita dusta untuk mendukung tuduhannya tersebut. Mereka dengan seenak hatinya mentafsirkan hadits-hadits yang shahih menurut hawa nafsunya. Namun tuduhan mereka telah terbantahkan dengan cukup rinci, dan cukuplah dalam menanggapi ucapan itu bahwa penghinaan mereka terhadap Allah dan Rasulnya jauh lebih besar daripada penghinaan kepada Aisyah. Karena tidak mungkin seseorang ingin membuat tipu daya kepada Rasulullah kemudian tidak ada wahyu yang datang untuk memberitahunya. Seperti yang pernah Rasulullah alami ketika beliau berusaha diracun oleh Yahudi. Atau seperti ketika beliau akan dilempar sebuah batu. Jadi, mana mungkin Rasulullah hidup selama bertahun-tahun bersama dengan orang yang ingin mencelakakannya, bahkan memilih untuk tinggal di rumahnya ketika sakit, kemudian meninggal dalam pelukannya, dan Rasulullah tidak menyadari bahwa Aisyah ingin mencelakainya? Sungguh kedustaan ini hanyalah rekayasa belaka.

Mereka juga menuduh bahwa Aisyah suka berbohong kepada Rasulullah, dengan menyertakan dalil palsu. Hal yang demikian itu sangat bertentangan dengan kejujuran seorang Aisyah yang telah tersebar di kalangan umat Islam kala itu. Karena beliau adalah seorang Shahabiyyah. Dan istri seorang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan Ummu Salamah masih menyebut beliau seorang yang jujur ditengah kecemburuan yang melanda diantara keduanya kala itu, dan bukti kejujuran beliau adalah bahwasanya beliau juga meriwayatkan hadits yang menjelaskan sebuah kebohongan yang terjadi, dan sebuah rekayasa yang dituduhkan kepada Rasulullah.

Sementara untuk tuduhan mereka kepada Aisyah yang berkaitan dengan ahlu bait, maka cukuplah hubungan kasih sayang yang terjalin antara mereka di pembahasan sebelumnya yang membantah semua itu.

Tuduhan lain yang sangat keji adalah mereka mengklaim bahwa Allah memaparkan kisah istri dua orang nabi, Nuh dan Luth sebagai perumpamaan bagi Aisyah. Maka jelas ini adalah sebuah kedustaan. Bagaimana mungkin Allah menjadikan keduanya sebagai perumpamaan bagi Aisyah, sedangkan perumpamaan itu adalah perumpamaan bagi orang-orang kafir, dan Rasulullah setuju akan hal itu. Namun beliau tidak menceraikan Aisyah. Dan bagaimana mungkin dalam Al-Qur’an Allah begitu memujinya dengan firman-Nya:

“Dan istri-istrinya adalah ibu ibu mereka”

Lalu kemudian memberikan perumpamaan untuknya dengan dua wanita kafir dalam firman-Nya:

“mereka berdua dibawah pengawasan dua hamba..”.

Aisyah dan Hafshah berada dalam didikan dan pengawasan Rasulullah saja, maka bisa dipastikan bahwa ayat itu bukanlah untuk Aisyah dan Hafshah.

Tuduhan yang lain menyebutkan bahwa Aisyah membenci Utsman bin Afan, dan dialah menyuruh untuk membunuh Utsman. Tuduhan ini juga bersandarkan kepada berita-berita dusta yang dipercaya. Dan sangatlah jelas berita bohong ini bertentangan dengan hadits yang berisikan tuntutan qishosh kepada pembunuh
Utsman bin Afan. Bahkan beliau meriwayatkan banyak hadits tentang keutamaan Utsman yang berasal dari Rasulullah. dan masih banyak lagi tuduhan yang tidak masuk akal dari mereka.

Pasal kedua: Tentang syubhat yang sengaja diciptakan untuk menyamarkan antara kebenaran dan kebohongan yang terjadi.

Diantaranya adalah syubhat yang berkaitan dengan hubungan Aisyah dan Rasulullah. Mereka menuduhkan bahwa Aisyah adalah seorang istri yang buruk perilakunya. Dan ini sungguh mengada-ada. Bagaimana mungkin Rasulullah mencintai wanita yang buruk akhlaknya?. Bahkan Aisyah adalah istri yang paling beliau cintai di antara istri-istrinya yang lain. Rasulullah mencintai Aisyah karena agama dan akhlaknya, maka penjelasan ini cukup menjawab semua syubhat yang berhubungan dengan Aisyah bersama Rasulullah. Dan tidak ada seorang pun yang mencela berita tentang bagusnya perangai Aisyah. Akan tetapi ada saja tulisan salah tentang masalah ini.

Mereka juga mengarang berita bahwa Aisyah sengaja menyebarkan rahasia Rasulullah. Padahal yang menyebarkan rahasia itu adalah Hafshah. Dan seandainya benar Aisyah yang melakukan hal itu, maka dia telah berbuat maksiat dan dia bisa bertaubat dari dosa itu. Karena tidak ada persyaratan bagi penghuni surga itu harus tidak pernah berbuat dosa. Mereka juga menyebarkan kebohongan bahwasanya Aisyah menampar wajahnya sendiri (meratap) ketika Rasulullah meninggal dunia. Dan berita ini sungguh bertentangan dengan hadits dari Qais bin ‘Aashim yang menyatakan bahwa tidak ada yang meratapi kematian Rasulullah. Dan seandainya benar seperti itu, beliau mengakui ketika itu usia beliau sangat muda, dan itu bukti bahwa dia telah bertaubat dari masalah ini, dan mengakui kesalahannya yang disebabkan oleh besarnya musibah yang menimpa. Apapun itu, perkataan mereka sangatlah bertentangan, karena mereka menuduh Aisyah menampari wajahnya karena sedih atas kematian Rasulullah dan disisi lain Aisyah berusaha mencelakai Rasulullah dan ingin meracuninya.

Disamping syubhat yang berkaitan dengan kehidupan beliau bersama Rasulullah, mereka juga menyebarkan syubhat yang berhubungan dengan ahlu bait. 

Diantaranya adalah Syi’ah Rafidhah yang menyebarkan berita dusta bahwa Aisyah membenci Ali bin Abi Thalib, sampai beliau tidak pernah mengucapkan nama Ali. Maka jawabannya ada dalam pembahasan yang sebelumnya, yaitu tentang jalinan kasih sayang yang terjadi diantara keduanya. Dan ulama pun membantah hadits yang mendukung berita dusta itu untuk membuktikan kebenarannya, bahwasanya beliau tidak terlalu ingat nama Ali. Bisa jadi karena beliau tidak mengenal Ali dengan jelas karena terkadang Rasulullah menyebut Al-Fadl dan pada kesempatan lainnya beliau menyebut Ali. Yang jelas ada sebab yang membuat Aisyah tidak begitu ingat namanya. Akan tetapi ketika menjelang lanjut usia mereka, terikatlah sebuah ikatan yang penuh kebaikan diantara keduanya, sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya. Dengan itu kita bisa menjawab semua syubhat Syi’ah tentang kemarahan Aisyah kepada Ali disebabkan lemahnya tuduhan mereka.

Mereka menuduh bahwa Aisyah menghalangi Fatimah untuk mengambil harta warisannya. Maka kita jawab bahwa Aisyah tidak pernah mencegah Fatimah untuk mengambil jatah warisannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

“Aku tidak meninggalkan warisan apapun, apa pun yang aku tinggalkan adalah shadaqah”.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Aisyah dan istri-istri nabi yang lain pun tidak mendapatkan warisan apapun dari Rasulullah, itu berarti bukan hanya Fatimah yang terhalang. Bahkan ketika istri-istri Nabi berencana untuk mengutus Utsman bin Afan kepada Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Rasulullah, Aisyah menasehati mereka,

“Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa aku tidak men inggalkan warisan, segala yang kutinggalkan menjadi shadaqah”

Tatkala Ali menjabat sebagai khalifah, beliau pun menerapkan hal yang sama seperti Abu Bakar ketika menjabat sebagai khalifah, tidak memberikan warisan Rasulullah shallallahu’laihi wasallam kepada Fatimah.

Terdapat beberapa syubhat yang lain, yang berkaitan dengan syi’ah Rafidhah yang tidak perlu disebutkan. Semua termuat dalam buku aslinya beserta bantahannya sekaligus.

Adapun tentang syubhat yang berkaitan dengan Perang Jamal, tentunya hal itu membutuhkan pembahasan khusus yang lebih luas. Pertama-tama menjelaskan tentang beberapa hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama. Diantaranya adalah berbaik sangka terhadap para sahabat. Jangan pernah menghina mereka, serta menahan diri untuk tidak masuk kedalam persengketaan yang terjadi diantara mereka. Meyakini bahwa mereka tidak bersalah, serta menjelaskan bahwa perang itu terjadi setelah kematian Utsman bin Afan, dan kesepakatan para sahabat untuk membaiat Ali serta adanya tuntutan untuk meng-qishash pembunuh Utsman. Akan tetapi Ali memerintahkan mereka supaya bersabar dahulu karena masih adanya suatu halangan, maka masalah ini pun menjadi campur aduk. Ada hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu, serta pemerintahan stabil, sehingga qishosh bisa dilaksanakan. Namun hingga sampai empat bulan pembunuhan Utsman berlalu, tetap tidak ada keputusan bagi pembunuhnya, maka terjadilah perselisihan, mereka menuntut balas atas kematian Utsman, dan Aisyah pun berusaha mendamaikan kedua golongan yang bertikai tersebut, maka beliau mengirimkan surat kepada Ali menjelaskan keadaan yang terjadi, akan tetapi pembunuh Utsman yang menyusup diantara kaum muslimin menghasut mereka agar berperang hingga terjadilah perang yang dikenal dengan Perang Jamal. Perang pun berkecamuk dan banyak jiwa yang terbunuh. Melihat yang demikian itu Aisyah pun menyesal karena telah ikut terlibat. Beliau berfikir ada baiknya kalau tidak tidak pernah keluar, dan beliau tidak mengira jika keadaan akan seperti itu.

Mereka menyebarkan kedustaan lagi bahwa Aisyah keluar berperang untuk membunuh Ali bin Abi Thalib, dengan menggunakan riwayat palsu sebagai sandaran. Mereka berkata: bahwasanya Rasulullah bersabda,

“kamu memerangi Ali, dan kamu berbuat dholim kepadanya”.

Dan seperti yang diketahui, bahwa saat itu Aisyah keluar dengan tujuan mendamaikan dua golongan yang bertikai, bukan untuk membunuh sebagaimana tuduhan Syi’ah Rafidhah. Semua itu telah dibantah semuanya dalam kitab aslinya.

Pasal ketiga: tentang berita bohong (tuduhan Aisyah berzina dengan Sofwan, pent), baik yang dulu maupun yang sekarang ini terjadi dan atsar-atsar yang menjawab keduanya. Pasal ini juga menyinggung bagaimana mulanya tercipta berita bohong itu sebagaimana yang ada dalam riwayat Bukhori dan Muslim. Serta beberapa penjelasan penting yang berkaitan dengan berita bohong ini, seperti waktu terjadinya, siapa dalangnya, dan bagaimana sikap Rasulullah dalam menyikapi berita ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam terlihat begitu sabar, yakin bahwa istrinya tidak bersalah, hal itu bisa terlihat ketika Rasulullah bersabda,

“Demi Allah tidak lah aku mengetahui keluargaku melainkan kebaikannya” dan seterusnya. Begitu juga sikap para sahabat.

Sedangkan “berita bohong” adalah berita yang sangat layak mendapatkan perhatian khusus, dalam berita itu justru keutamaan beliau tampak lebih jelas, menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang mulia akhlaknya, melindungi kehormatannya dan menjaga rahasianya.

Seandainya manusia melihat berita itu tanpa melihat keutamaan yang dimiliki oleh ummul mukminin sekalipun, bisa diketahui jika tidaklah mungkin Aisyah melakukan perbuatan sebagaimana yang dituduhkan kepadanya. Karena beliau pergi bersama Rasulullah pun atas undian yang beliau dapatkan. Karena sudah menjadi kebiasaan Rasulullah jika beliau akan bepergian ia selalu mengundi istriistrinya. Dan barang siapa yang keluar namanya maka dialah yang akan mendampingi beliau. Pulangnya Aisyah pun pada siang hari di hadapan mata manusia, tidak tertutup gelapnya malam, tidak ada yang disembunyikan. Beliau menunggang kendaraan yang dipandu oleh Sofwan bin Mu’atthol, dan tentang Sofwan bin Mu’atthol yang ditinggal oleh rombongan itu bukanlah perkara yang aneh, karena sudah menjadi kebiasaan rombongan Rasulullah selalu ada yang berangkat paling akhir guna memeriksa kembali barang bawaan atau sesuatu apapun yang tertinggal dari rombongan utama, dan sebagainya. Hal itu membuktikan bahwa beliau adalah seorang wanita yang bersih lagi suci, sedangkan Syi’ah Rafidhah mempunyai pandangan yang keji terhadap Ummul Mukminin Aisyah.

Sebagaimana berita dusta zaman dahulu yang memberikan hikmah yang banyak, demikian pula cerita dusta yang terjadi pada zaman sekarang ini. Dan apapun tuduhan mereka kepada ummul mukminin Aisyah, Allah selalu mensucikannya dari tuduhan tersebut. Dan dalam kisah dusta tersebut juga menyiratkan banyak hikmah yang bisa diambil darinya. Ummul mukminin juga membuka semua kedok Syi’ah Rafidhah. Beliau mengirim pesan yang jelas kepada setiap orang yang menyeru untuk bergabung dengan Syi’ah, dan para ulama pun menjelaskan tentang bahayanya Syi’ah Rafidhah. Banyak sekali dari mereka yang kembali kejalan Allah dan meninggalkan agama Syi’ah setelah dipaparkan kebenaran fakta dari Syi’ah tersebut, dan atsar-atsar yang menjawab tentang berita dusta ini.

Bab Keenam:
Hukum Mencela Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu Anha

Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang menghina Aisyah setelah Allah mensucikan beliau dari segala tuduhan maka ia telah kafir. Diantara ulama yang telah berpendapat demikian adalah Al-Qodhi Abu Ya’la, Ibnul Qoyyim, Ibnu Katsir, Al-Hijjawy dan selainnya. Bahkan para ulama berpendapat jika orang itu menghina Aisyah setelah Allah bersihkan nama beliau dari tuduhan itu maka dia adalah kafir dan hukuman yang pantas untuknya adalah hukuman mati. Namun jika orang itu menghina Aisyah dalam suatu hal yang tidak Allah turunkan pembelaannya, maka ulama berpendapat bahwa dia telah melakukan dosa besar, haram hukumnya menghina para sahabat. Dan istri-istri Rasulullah termasuk golongan shahabat.

Namun terdapat perselisihan pendapat tentang orang yang menghina Aisyah dalam suatu perkara yang Allah tidak mensucikan nama beliau, apakah dia dihukumi kafir atau tidak.

Bab Ketujuh :
Aisyah Dalam Bait Syair

Bab ini mengandung kumpulan bait-bait syair yang memuji beliau, keutamaankeutamaan beliau, dan pembelaan untuknya -semoga Allah meridhoinya-.

Penterjemah : Ahmad Zawawi, Arif Dhiyaul Haq
Editor : Mas’ud Abu Abdillah


  



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

.

Rasulullah s.a.w bersabda :

” Sesungguhnya seorang hamba yang bercakap sesuatu kalimah atau ayat tanpa mengetahui implikasi dan hukum percakapannya, maka kalimah itu boleh mencampakkannya di dalam Neraka lebih sejauh antara timur dan barat” ( Riwayat Al-Bukhari, bab Hifdz al-Lisan, 11/256 , no 2988)